Sejak bulan Mei 2019, kebiasaan gw membeli handphone agak sedikit berubah, jujur aja si biasanya gw selalu beli handphone bekas untuk dipakai, hanya saja sejak kenal satu brand dari China, selama setahun itu, gw jadi semacam terobsesi untuk upgrade setiap rilis, yang mana agak tidak baik secara keuangan, karena handphone china itu cycle rilisnya 6 bulan sekali.

Gw sempet mikir, kalo spent duit 700rb-1jt/6bln kayaknya ngg terlalu buruk, toh dalam rentang 1 Tahun, harga handphone di pasaran itu setidaknya bakal turun sekitar 1.5jt/1.7jt, untuk handphone yang harga awal rilisnya berkisar 3jt-an. Jadi gw pikir, toh sama saja penurunannya, lebih baik gw upgrade diawal atau diisetial release cycle, sehingga gw bisa mengadopsi teknologi terbaru.

Sampai gw melakukan 2x iterasi upgrade, lalu berikutnya brand ini rilis product baru, gw agak sedikit bimbang untuk upgrade, karena dari segi spesifikasi tidak terlalu beda, pun gw ngga suka dengan design yang ada. Dan gw mulai menghitung-hitung kembali, apakah perhitungan gw setahun yang lalu benar adanya?

Perhitungan gw tidak salah, karena itu pun didapat dari hasil riset kecil-kecilan, hanya saja, gw lupa atau kehilangan satu variable lainnya, yaitu "fixed decreasing price", wkwkw itu bahasa gw sendiri, jadi mungkin ngg ada di kamus manapun. Mudahnya, harga suatu barang itu bisa ada masa dimana stagnan, atau penurunannya tidak signifikan.

Gw pikir keadaan tersebut disebabkan fluktuasi pasar atau demand. Gimana ya mudahnya, mungkin begini, produk yang eksistensinya masih populer dan demand nya masih ada, nilainya itu mau tidak mau dikendalikan pasar, sedangkan produk yang sudah kehilangan "hype" cenderung dikendalikan penjual. Contoh, ketika kita menjual barang misalnya TV yang dibeli 10 tahun lalu, kita estimate "kynyaya 500rb boleh lah".

Ini contoh real deh, brand china yang gw maksud adalah Xiaomi, mereka merilis Redmi Note 5 (2018) itu di harga 3jt-an di awal rilis, kalo gw menggunakan perhitungan awal dimana harga handphone akan turun 700rb/6bln, maka Redmi Note 5 ini sudah tidak berharga di Tahun 2020.  Nyatanya, handphone ini dipasaran masih dijual dengan harga 1-1,3jt. Kalo gw melakukan iterasi upgrade setiap 6 bulan selama 2 tahun atau masuk 4 iterasi, maka setidaknya gw akan kehilangan duit 2,8jt.

Handphone yang mulai saturated

Elu merasa ngg si, handphone itu sudah mulai saturated. Yang ngg ngerti saturated, mudahnya perkembangan dan hype nya mulai stagnan, tidak wah, tidak seperti awal transisi dari  penggunaan keyboard fisik ke full layar. Apalagi improvment yang sekarang ini dilakukan oleh manufacture lebih ke camera, ya faster CPU, huge storage, tapi ya akhirnya gitu-gitu aja, Gw pun menyadari kalau saat gw upgrade dulu ke handphone yang gw pakai sekarang, beda 1 generasi, rasanya ya hampir sama aja, lebih smooth memang, tapi secara keseluruhan sama saja.

Mungkin karena gw cuma main di segment mid range, mungkin jika upgradenya ke high ada sedikit perubahan, tapi gw juga ngg begitu tertarik, selain karena ya harganya muahal, dengan handphone yang sekarang gw pakai saja klo dipikir-pikir wasting resource, gw menggunakan handphone berlabel pro, dimana penggunaan hanya sebatas sosmed, nonton, dan browsing, untuk meminang dengan spending 10jt starting point handphone flagship, gw harus mikir ulang 10x.

Akhirnya, nilai bijak dalam diri gw mengatakan, ya karena masa pandemi juga yang agak sulit mencari uang saat ini, gw kedepan sepertinya akan kembali ke diri gw yang dulu, menikmati kembali barang- barang second. Kenikmatan hunting dan excitement ketika menemukan barang second murah dan kondisi oke, lebih menyenangkan ketimbang unboxing barang baru. :) mungkin, bilang aja ngg punya duit..wkwkw :D