Jam 3 pagi, sy tengok Bapak tiduran di ruang keluarga, "udah beres Pak?", "belum ...". Setengah jam kemudian beliau kembali ke tempat pemungutan suara kemarin berada, meneruskan pekerjaannya, dan baru pulang jam 9 Pagi. Lebih dari 24 jam, dengan konpensasi seadanya, belum dipotong pajak. Belum menjadi ketua itu sampai saat ini saja masih ditagih hal administratif. "Mending jadi linmas, ngg beda jauh upahnya", ungkapnya.

Berselang itu sy banyak menemukan campaign dari kitabisa.com dengan tagar "Pahlawan Demokrasi". Sejalan dengan bermunculan berita bahwa 500 lebih anggota KKPS dikabarkan meninggal dunia. Bapak saya pun selepas hari itu memang sakit selama beberapa hari, untungnya tidak ada yg serius. Ya, bagi keluarga saya untung, tapi bagaimana dengan yg lainnya? dari campaign itu, saya melihat jika memang tidak ada "gerakan" apapun dari KPU. Ibaratnya, nikmatilah gelar "Pahlawan Demokrasi", cerita bagaimana dengan nasib keluarga yg ditinggalkan, atau jika yg meningal itu kepala keluarga, tinggal perlihatkan saja "nak, Bapamu Pahlawan Demokrasi, ini buktinya...", "nak, bayar biaya sekolah kasih tau guru di sekolah bapak saya Pahlawan demokrasi".Yg mana disertai sekelimut hal-hal aneh pada pergelaran pesta pemulu kali ini.

Salah satu politikus berkata,

"pergelaran pemilu yg lalu saja, ada meninggal 100 orang biasa saja, tidak ramai, kenapa sekarang ramai? kenapa kemarin tidak?"

hmm, sy berharap orang ini termasuk dari 500 nyawa yg menghilang ini. semudah itu bilang, "kenapa musti ramai?"

hal yg membingunkan lainnya adalah, bagaimana opini publik terbentuk menjadi dua kekompok, yg pro penyelidikan dan "yaudah...". Apakah betul kita harus kehilangan rasa empati karena politik dan mengabaikan hilangnya nyawa 500 orang lebih ini? Simulasi macam apa yg dilakukan KPU sehingga bukanya berkurang, korban malah membengkak 5x lipat, yet KPU sudah membatasi jumlah pemilih per TPS itu max 300 pemilih. Hal ini, bukan dalam rangka mempertanyakan kehendak takdir.

Lalu Arif Budima, ketua KPU mengatakan, "penyelidikan itu melukai keluarga yg ditingalkan". Ucapannya seperti bisa diterjemahkan dengan, "Tragedi yg terjadi biarlah berlalu, toh sudah meninggal, yasudah."

Agar kita tidak belajar, dan mengulangi hal ini lagi dimasa depan. Begitukah?

ahh ...

yaudalah yah, toh bukan keluarga sendiri yg jadi korban ..  ☺️

So we are just lost this important question and do it again in the future?



LABEL: Human , Politik , Sosial , What I Think