Menulis dan mempublish ni seperti melucuti pakaian di muka umum, lagi ingin nulis ini, jadi, bodo amat lah. wkwkwk
Kemarin, sy lihat petisi di Facebook, untuk memblokir channel seorang YouTubers. Sy cek sekilas, entah, sy berani jamin anak SD masa kini, ngerti judul-judul video yg dipakai mengarah ke konten sexual. Saya tonton, dan ngerti kenapa channel-nya ada yg mempetisi, luber.

Unknown: Paha dan Daya (ayam)

Petisi semacam ini pasti ada contra, isinya biasanya "orang indonesia norak, gampang ereksi", "biarlah, tidak perlu ngurus soal selangkangan", dll. Disini, sy tidak ingin berdebat, tapi hanya menjabarkan apa yg sedang saya coba pahami saja. Jika ada yg perlu sy ketahui, atau keliru tolong informasikan untuk bahan koreksi.

"orang indonesia norak, gampang ereksi", artinya berupa komparasi dengan negara lain, norak, itu soal kebiasaan, dalam konteks "terlalu kritis/sensitif", gampang ereksi, sy ngg tau gimana menentukan ini, apa contoh, iklan sho***e yg jadi polemik, disurvei ke orang-orang untuk dilihat, setelah atau ditengah menonton ditanya "apa sekarang kamu ereksi?", sy ngg tau. Atau karna banyaknya noise "norak" tadi jadi disimpulkan gampang ereksi.

Pro dan Con, oke, karena ini negara demokrasi. Meski yg sy tau negara tidak punya aturan khusus jika berpakaian itu harus abc, bebas. Tapi perlu diingat, ada 87% orang Indonesia, meski sy pun ngg tau berapa persen yg aware, dalam keyakinannya  punya aturan berpakain yg jelas ABCnya. Itulah alasan "norak"-nya orang Indonesia.

Jomplang, jika di-compare dengan negara lain, US misalnya, mungkin 90% masyarakatnya meyakini yg harus ditutup itu, maaf-maaf kata, puting dada saja dan sebagian lainnya. Jadi di US tidak ada noise, kecuali pada gerakan-gerakan semacam braless atau nudism.

Bicara hasrat sexual, coba cek laporan tahunan Po***ub Insight dari tahun ke tahun, inget laporannya, bukan situsnya. Top 10 negara pengakses utama itu tidak ada Indonesia, dan yg no 1 itu US, yg tidak terdengar noraknya. Jadi, bagi saya tidak ada korelasi, antara "norak" dengan tingkat ereksi (hasrat sexual).

Sy pernah survei kecil-kecilan ke beberapa lelaki yg sy yakin normal "bro, kenapa si lu suka payudara?", semua jawabannya "Ngg tau, suka aja", tapi ngg ada yg jawab "Gw ngg suka". Lelaki yg "diam" itu sedang menikmati, terlepas menaikan hasrat sexual atau tidak, lelaki normal menyukai itu.

Ngg ngerti ya, bukannya mengobjekan tubuh wanita, sy lelaki, juga sebagai orang yg sedang mencoba memahami banyak hal, subjek ini satu hal yg rumit untuk dimengerti. Otak kanan sy bicara bahwa "ini" itu indah, otak kiri bicara, "apa yg indah? itu cuma gumpalan daging yg menempel didada?", apa yg bisa sy terima saat ini, "otak laki-laki memang begitu adanya". Apa ya, male dan female itu memang bener-bener sepaket gitu ya, wanita itu nature nya suka diperhatikan, dan itu salah satu senjatanya.

Apa si fungsi utama berpakaian? menurut sy untuk menutupi atau melapisi tubuh, dari anomali lingkungan (serangan binatang, temperatur udara, dll). Jika manusia bisa memilih berpakain dengan hanya fokus pada tujuan utama, dan itu nyaman. Kenapa memilih berpakain dengan menampilkan beberapa anggota tubuh? menampilkan lekuk tubuh? apakah benar karena agar terlihat "menarik", agar enak diliat, agar cantik, agar ganteng? berarti sudah ada factor lain yg ingin diraih. Coba jika dibagian tubuh itu ada bekas luka, panu, cacar, kutu air, apa masih ingin ditampilkan?

Dari awal sampai akhir terasa atau mungkin memang berat sebelah, merendahkan, menyudutkan wanita. Tapi sy tidak bermaksud untuk itu. Sy hanya paham bahwa, manusia itu dilahirkan membawa kemungkinan berbuat baik dan buruk, positif dan negatif. Kamu selalu bisa berharap orang lain akan berbuat baik, bisa mengerti setiap keadaan. Tapi hal seperti itu hanya di dunia mimpi, tidak di kenyataan. Berhati-hati.

Siapapun memiliki hak untuk bersuara, dilaman public kamu berhak memggunakan pakaian apapun, tapi jangan lupa, ada orang lain yg juga memiliki hak bersuara jika hak yg kamu jalankan bersinggungan dengan hak kolektif kebanyakan orang. Bukan tentang minor dan mayor, society itu bekerja seperti itu.

Lantas kenapa berpakain tapi menampilkan dada dan paha? menurut sy, apa yg dilakukan adalah mengexploitasi tubuh sendiri untuk menarik, mengundang perhatian. Tidak ada urusan soal norak, soal gampang ereksi, tapi jika hasil "undangan" itu mendapatkan respon yg tak terduga, jangan hanya terfokus menyalahkan respon itu, coba perhatikan lagi, penyebaran "undangan" itu di filter atau tidak?

LABEL: 30HariBercerita , Human , Sex , What I Think