Doc.Pribadi: Bangku Kelas disuatu Sekolah
Pagi tadi, saya mendatangi sekolah adik bungsu yang berada dikelas 10 untuk mengambil rapot. Duduk di bangku kayu dengan kolong, mengingatkan saya suatu hal. Salah satu kebiasaan buruk adik saya yang ini adalah sering beli alat tulis tapi tidak tahan lama, alias mudah sekali kehilangan barang. Bersebrangan dengan saya, yang bisa dibilang jarang sekali beli alat tulis, paling-paling hanya beli pensil 2B saat akan Ulangan Nasional, yang saat ini sudah digantikan dengan ulangan berbasis komputer.

Ada apa dengan meja kayu, yg berkolong?

Sekolah saya dulu (SMK) menerapkan moving class system, kami sebagai siswa, tidak mempunya kelas tetap, ataupun bangku tetap. Setiap hari selalu berpindah kelas mengikuti jadwal kelas yang sudah ditetapkan.

Jeleknya dari moving class system adalah, kalau barang remeh temeh semacam alat tulis ketinggalan di kelas hari sebelumnya, ikhlaskan saja. Karena mungkin ada orang-orang semacam saya yg berkeliaran.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, di post numismatik (tulisan hari ke-3), saya ini penyayang barang, termasuk juga barang-barang tercecer yang sudah tak bertuan. Saya akan dengan senang hati menjadi tuan yang baru, menjaga dan merawatnya.

Jadi, setiap saya kehabisan persediaan alat tulis, selepas sekolah usai, saya tinggal berkeliling kelas-kelas kosong dan memeriksa kolong-kolong meja untuk mencari pensil, pulpen, dll yang ditelantarkan tuannya.

Sungguh, betapa mulianya diri saya ini.


LABEL: 30HariBercerita , Sekolah , What I Share