Pertanyaan ini sudah muncul sejak beberapa tahun kebelakang, tapi tidak begitu saya tanggapi, seiringan dengan melihat banyak hal, mendengar banyak cerita, pertanyaan ini terus menguat, apa arti hidup? apa tujuan saya hidup? ketidakmengertian itu terus terakumulasi. Penghujung akhir tahun 2017, saya mulai mencoba serius untuk memecahkan pertanyaan ini, tapi tanpa ingin melibatkan agama yang saya anut, tanpa ingin melibatkan dogma yang sudah ditangan. Saya ingin mencari jawaban dari pertanyaan itu melalui perspektif saya sebagai manusia, akal, dan pemaham kerdil tentang hidup yang telah saya lalui lebih dari 23 tahun saat itu. Apa hasilnya? semua itu diakhiri dengan rasa depresi, hasil kontemplasi selama 6 bulan itu jika saya ungkapkan, dan saya aminkan. Saya sudah tak tertarik melihat dunia yang saya tempati ini, jika saat itu saya bisa memilih, saya akan memilih menyelesaikan hidup ini secepatnya.

ilustrasi - limawaktu.id
Hidup ini haruslah memiliki visi, begitulah yang saya dengar. Apa visi hidup saya? Buya Hamka pernah mengatakan bahwa, "kalau hidup sekedar hidup babi di hutan juga hidup, kalau kerja sekedar bekerja kera juga bekerja". Apa yang membedakan saya, babi dan kera dalam menjalani hidup? Agama yang saya anut, agama Islam, sudah menerangkan bahwa hidup adalah untuk beribadah, tapi sejujurnya saya masih bingung arti dibalik ibadah itu sendiri. Kadangkala pengertian itu masih mengambang, hati saya masih belum teguh untuk menerima itu sepenuhnya, masih ada sedikit keraguan. Mungkin, "mungkin ada hal lain yg bisa saya coba cari", pikir saya. Ini menjadi pertanyaan penting bagi saya pribadi, untuk menuntun arah hidup saya kedepannya, sebagai pembeda saya dengan babi dan kera di hutan sana.

Melucuti sementara dogma-dogma yang sudah tertanam, rasanya seperti kehilangan harapan, kehilangan tujuan. Pemikiran saya terombang-ambing, mengambang tak jelas. Dalam pandangan rasional rasanya semua hal menjadi tidak berarti, mau membicarakan hal apa? Orang yang dicintai akan mati suatu hari, harta yang didapat akan ditinggal, kendaraan yang diagungkan akan ditinggalkan, anak yang dibanggakan akan juga ditinggalkan. Apa yang sebetulnya saya miliki? raga yang akan menua? yang akan membusuk? mencari kesenangan? yang jika diartikan hanya proses pengeluaran dopamin dari otak, yang sensasinya sesaat?

Siapa sebetulnya wujud "saya" ini? sebuah pikiran? atau raga yang nampak dimata orang lain? saya bahkan tidak paham tentang raga saya sendiri. Sebuah jantung yang tidak bisa saya kendalikan? yang saya tidak pernah sedikit pun memberikan instruksi kepadanya untuk terus memompa sebagai tiang untuk terus hidup. Saya tidak pernah bisa mengendalikan proses mencerna makanan, saya juga tidak paham bagaimana menutup luka goresan. Siapa sebetulnya saya ini?

6 bulan berlalu dan selama itu rasanya seperti orang bodoh sedunia. Saya menyerah mencari jawaban pertanyaan ini, bagaimana rasanya berada pada lingkaran hidup seperti itu? mungkin seperti monster rekaan manusia, zombie. Zombie membutuhkan fresh meat for fulfill their desire, tapi untuk apa? untuk hidup? apakah mereka hidup? mungkin seperti berlari tanpa diberi petunjuk arah, tanpa diberi durasi, yang ada hanya terasa lelah. Mungkin seperti terkapar di sebuah sampan, yang akan dengan senang hati menuntun ke pulau-pulau berisi gemerlap nikmat, yang menarik perhatian banyak orang, tapi kamu tidak menentukan pilihan, karena yang terlihat, semua pulau itu kelabu, berkabut, tak berwarna, kamu memilih diam atau melubangi sampan dan tenggelam.

Pola pikir semacam itu tidak sekejap didapat, saya banyak mengambil hal di masa lalu, salah satu hal yang terus membuat saya ingat adalah cerita kehidupan seorang yang bernama Oei Tiong Ham yang saya baca dari novel berjudul "Kisah tragis Oei Hui Lan, putri orang terkaya di Indonesia", dia orang terkaya di Asia Tenggara saat itu, dikenal sebagai Raja Gula dari Semarang, kekayaannya jangan ditanya, rumah utama yang dia tinggali memiliki luas tanah 9,2 hektar, didalamnya terdapat kebun binatang pribadi, jumlah kamar rumahnya ada 200 kamar, you can imagine how rich this person is. Dan diakhir hayatnya dia meninggalkan itu semua, peninggalan kekayaannya malah menjadi pertikaian antara anak-anak cucunya. Saya cukup terobsesi dengan buku ini, karena pertikaian masalah harta waris juga pernah saya lihat cukup dekat, oleh karena itu saya cukup trauma mendengar kalimat waris. Tuduhan, teror, intimidasi menjadi hal yang mengerikan, mengoyak-ngoyak tali persaudaraan yang lama terjalin karena materi yang tidak seberapa. Kejadian itu membentuk pola pikir saya bahwa materi itu bisa membawa malapetaka, saya tidak ingin mengejar hal ini. Bahwa pengetahuan soal hukum-hukum hidup dalam Agama begitu penting, karena kejadian itu juga terjadi karena kurangnya pemahaman soal ini.

Diakhir saya mengakui apa yang pernah salah satu dosen saya bicarakan, bahwa akal manusia begitu terbatas, setidaknya itu juga yang saya rasakan. Bahwa dalam menjalani hidup, di atas logika pemikiran ada imam, di atas pemahaman ada iman, di atas segalanya harus selalu dibungkus dengan iman. Iman yang akan memberi signal cukup, jika logika melampaui batas, karena manusia tidak bisa melampaui lebih dari itu.

Saya jadi mengingat saat peluncuran roket SpaceX Falcon Heavy di bulan februari 2018 lalu, salah satu yang meliput acara itu mewawancarai CEO Planetary Society - Bill Nye, orang ini sudah cukup tua, reporter yang meliput saat itu bertanya, "Apa harapan anda atas peluncuran ini kedepannya?", CEO itu pun menjawab "Semoga saja dengan peluncuran ini, menjadi awal bagi manusia untuk bisa menjawab 2 buah pertanyaan, yaitu dari mana asal kita? apakah kita sendirian di tata surya ini?". Saya tahu jika bukan hanya saya yang mempunyai pertanyaan serupa, tapi tetap saja pernyataan dia soal itu membuat saya tertegun sejenak, untuk orang yang sudah menjalani hidup selama 62 tahun, dia masih belum menemukan jawaban soal ini. Sebut saja peradaban manusia yang sudah menyentuh angka 2018 tahun, para logician modern masih mempertanyakan "asal usul manusia, apa tujuan hidup manusia.".

Saya mencoba membaca beberapa referensi dari filsuf terkenal semacam plato dan aristoteles soal "meaning of life", tapi bagi saya, apa yang mereka berdua coba terangkan rasanya tidak praktikal. Pada dasarnya manusia itu secara naluriah, mengultuskan, menuhankan sesuatu. Bagaimana ceritanya orang-orang jaman dulu bisa memilih matahari, bulan, batu, pohon sebagai Tuhan? siapa yang mengajarkan konsep ketuhanan? oleh karena itu konsep menuhankan mungkin sejatinya sudah ada dalam diri setiap manusia. Bahkan bagi saya kelompok Atheis yg menyatakan tidak bertuhan sejatinya bertuhan, hakikatnya bertuhan, mereka menuhankan akal, pengetahuan mereka. Rasa manusia menuhankan sesuatu itu untuk menumbuhkan harapan, apa yg membuat manusia bisa bertahan hingga saat ini? mungkin mereka terus berharap akan suatu hal, berharap bahwa anak, keturunan mereka bisa terus tumbuh membangun dunia.

Apa hasil dari semua ini? Saya mengakui bahwa tujuan hidup manusia tentang ibadah--"Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."(QS-Adz Dzariyat:56)--yang sudah tertulis 1440 tahun lalu adalah hal yang harus saya camkan baik-baik. Ibadah yang menurut kaidah bahasa adalah merendahkan diri, ketundukan dan kepatuhan akan aturan-aturan agama, dan ini lebih rasional bagi saya, ibadah bentuk praktikal untuk menumbuhkan harapan. Pemikiran bahwa hidup is nothing, still berada di alam pemikiran saya, tapi hidup tetap lah hidup. Moment ini seperti restorasi beberapa pola pikir saya dalam memahami Agama, saya yang mengaminkan banyak hal tapi juga kadang mempertanyakan beberapa hal. Saya ingin memulai kembali untuk lebih memperhatikan Agama yang saya anut ini, merendahkan kecongkakan rasionalitas, mempelajarinya lebih giat lagi, sedikit-demi sedikit mengamalkan sunnah-sunnah-Nya.


LABEL: Muslim , What I Think