Di era pesatnya perkembangan teknologi saat ini (ini, pendahuluan khas anak IT saat bikin makalah), semua kegiatan manusia semakin dipermudah, tak terkecuali soal cicil-mencicil, yang erat sekali kaitannya dengan praktek RIBAWI. Hal itu ditandai dengan cukup banyaknya perusahaan pembiayaan kredit berbasis online, seperti k**d**o, ak****u, dll. Proses pengajuan kredit begitu mudah, cukup dengan sentuhan jari, dan limit kredit pun didapati.



Ribet, nyusun kalimat buat paragraf diatas, wkwkwk. Udah ah pake bahasa biasa ajalah.
Kalo lu baca post ini sehabis baca post simulasi cicilan di k**d**o, bagus, misi saya buat ngingetin orang setidaknya tercapai. Saya pisahin post ini karena, takut dituntut UU ITE soal pencemaran nama baik, ya setidaknya jaga-jaga lah ya. Biar ngg menohok banget nyebut RIBA depan orangnya langsung.

Setelah post itu dibuat, saya langsung kembali baca-baca soal hukum kredit. Dan saya salah, mode "Pay in 30 days" yang saya anggap ngg masalah, ternyata juga teridindikasi RIBA. Saya sempet baca, di review PlayStore atau review orang gitu, jika telat bayar dikenai denda 3% persen. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid menyatakan bahwa tetap tidak dibolehkan mengikuti transaksi kredit yang ada dendanya ketika telat bayar, walaupun pembeli bertekad untuk melunasi angsurannya tepat waktu. Ada dua alasan terlarangnya:

  • Ini sama saja menyetujui syarat riba, itu haram.
  • Bisa jadi ia tetap terjatuh dalam riba karena telat saat punya udzur yaitu karena lupa, sakit, atau pergi safar. (Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, 101384)

Untuk masalah kredit setelah saya baca-baca kembali tidak dilarang, cuma memang rawan sekali.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282).
Ayat di atas adalah dalil bolehnya akad hutang-piutang, sedangkan akad kredit merupakan salah satu bentuk hutang, sehingga keumuman ayat di atas bisa menjadi dasar bolehnya akad kredit. Kredit yang diperbolehkan yaitu penjual memiliki barang yang hendak dia jual dengan sistem kredit. Penjual tidak boleh menjual barang manakala dia sendiri belum memiliki barang yang hendak dia jual.

Bahkan saya kutip dari web pengusaha muslim, Bank "Syariah" pun, tidak betul-betul menerapkan hukum dengan benar. Ini salah satu kasusnya, calon pembeli datang ke bank, dia berkata kepada pihak bank: “Saya bermaksud membeli mobil X yang dijual di dealer A dengan harga Rp. 90 juta. Pihak bank lalu menulis akad jual beli mobil tersebut dengan pemohon, dengan mengatakan: “Kami jual mobil tersebut kepada anda dengan harga Rp. 100 juta, dengan tempo 3 tahun.” Selanjutnya bank menyerahkan uang Rp. 90 juta kepada pemohon dan berkata: “Silahkan datang ke dealer A dan beli mobil tersebut.”
“Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli bahan makanan hingga barang tersebut telah diserahterimakan.”
Contoh kasus diatas itu dilarang, hakikatnya adalah pinjam meminjam uang dengan bunga, di tengah-tengahnya ada sebuah barang sebagai formalitas. Kecuali mobil itu sudah dipindah tangankan (dibeli bank), bukan hanya dengan kesepakatan pihak bank dan dealer, tapi dipindahkan pula fisiknya juga, misal ke halaman bank. Sehingga itu mobil bener-bener milik Bank dan tanggung jawab Bank seutuhnya. Nah entah akhirnya mobil itu jadi atau tidak dibeli secara kredit oleh pembeli, tidak boleh dipaksakan.

Bagaimana dengan k**e**o? kalau ditilik dari contoh diatas, jelas sekali k**e**o cuma minjemin duit dan berbunga, yang jelas itu adalah praktek riba. Kecuali pihak k**e**o mempunyai kepemilikan barang secara penuh (tanggung jawab), mereka yang mengurus jika ada kerusakan, dll, lalu mengkreditkan kepada calon pembeli sesuai harga yang disepakati, dan jika pun ada keterlambatan bayar, tidak boleh dikenai bunga.

Itu beberapa kesimpulan yang saya baca, banyak hal yang tidak saya ketahui sebetulnya, dan cukup memusingkan hukum syariat ini. Harus dipelajari lebih lanjut.

Tau ngg kenapa saya sampe penasaran nyoba ngulik perhitungannya? karena punya rencana ngeredit barang, haduh #ngeRIBAnget, sumpah gatel ngeliat limit kredit yang ada, meski sebelumnya sudah sedikit tau hukum agamanya, tapi tetap aja ada bayang-bayang ngambil kreditnya. Kalau ditanya dari lubuk hati yang paling dalam, sebetulnya saya kesel syariat islam ada hukum yang seperti ini. Dari kacamata dan logic saya sebagai manusia, ada sedikit hati berkata, hal semacam ini itu memudahkan. Kenapa dilarang? mau teriak-teriak gimanapun, ini loh hukumnya.

Handphone yang saya pakai saat ini sekarang lagi ngadat, pengen beli handphone baru. Beli cash uangnya ada, cuma ada juga keperluan lain. Beberapa hari dilema, udah milih-milih handphone yang mau diambil, hasrat, ego, nafsu saya meningkat ketika liat limit kredit. Kebutuhuan yang tidak seberapa dengan awal milih handphone A, jadi nafsu pengen ambil yang lebih mahal, yang saya juga tau milih A aja sudah lebih dari cukup.

Saya ngg punya maksud buat menasihati lu, tulisan ini murni buat diri sendiri, lagi pula ngg ada nasihat apapun. Hikmahnya saya ngulik perhitungan dan nulis tulisan ini adalah, saya jadi inget RIBA, RIBA, RIBA. Yang sabar, yang sabar. Saya juga sedikit-sedikit baca hukum jual beli lainnya.

Saya sudah hapus aplikasi laknat itu, mau menenangkan diri, merenungkan kembali pikiran-pikiran kotor dan jahat yang semacam berkata, "udah gpp, toh cuma dikit.", "ah, bisa itu, bisa-bisain aja". Sialan emang, buat yang baru mau nyoba apply, saya sarankan jangan, takutnya lu ng bisa ngerem, hapus aja.

Udah ya, semoga curhatan ini bermanfaat.
Sonaji, 14:15pm.


Referensi asik:
https://rumaysho.com/701-kredit-lewat-pihak-ketiga-bank.html http://pengusahamuslim.com/212-praktek-murabahah-pembelian-kredit-melalui-bank-syariah.html
http://pengusahamuslim.com/2734-syarat-halalnya-jual-1454.html
https://rumaysho.com/16124-cicilan-0-masih-bermasalah.html
http://pengusahamuslim.com/212-praktek-murabahah-pembelian-kredit-melalui-bank-syariah.html
http://pengusahamuslim.com/2734-syarat-halalnya-jual-1454.html


LABEL: Muslim , Riba , What I Share