29 Februari 2016, Pak Ridwan Kamil menulis sebuah note di Facebook Page miliknya dengan judul "Ke Jakarta Tidak ke Jakarta"
Sebuah catatan penegasan, atas merebaknya isu pencalonannya menjadi cagub di DKI Jakarta, tidak hanya Pak Ridwan Kamil yang disebut-sebut, saya juga ingat Ibu Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) menjadi headline saat itu.



Tidak lama setelah itu, Facebook timeline saya cukup ramai dengan status yang isinya kurang lebih “Saya muslim, tidak pilih ahok”, “Saya muslim, tidak pilih pemimpin kafir”, ada yang masih ingat ? saya ingat karena saya menulis cacatan tentang keriuhan saat itu. Sejujurnya saat itu saya cukup terganggu dengan status-status seperti itu, dilema juga, disatu sisi publikasi itu baik karena mengingatkan muslim lainnya, disisi lain saya merasa itu adalah sebuah penyerangan terhadap Ahok, terlebih pengunaaan kata "Kafir" yang menyakitkan untuk didengar. Karena saya merasa ada perubahan makna seperti menjadi suatu momok yang menjijikan, dan itu terekam dipikiran saya, meskipun sebetulnya tidak ada yang salah dengan penggunakan kata "Kafir" toh secara etimologi artinya adalah "orang yang menutupi kebenaran risalah Islam".

Bagaimana mungkin saya tahu dikatai kafir itu menyakitkan ? saya merujuk pada sebuah catatan Pak Jaya Setiabudi di Facebook yang berakhir Viral saat itu, "KELUARGAKU dulu CHINA KAFIR, Seperti Kau Sering Teriakkan..!"

Saya menyukai bagaimana Ahok bekerja sesuai apa yang diberitakan media mainstream, pandangan satu sisi saya melihat Jakarta menjadi cukup baik, tentang pengembalian kembali fungsi sungai, penertiban PKL di tanah abang yang saat itu beritanya cukup ramai, mengusahakan pengelolaan institusi pemerintahan agar menjadi lebih terbuka seperti membuka kanal di youtube, dll. Terlepas dari beberapa pemberitaan diseretnya Ahok dalam beberapa kasus korupsi, cara berbicaranya yang kasar, masih ada nilai plus dimata saya.

Ya, saya hanya penonton diluar realita, toh saya tidak memiliki kepentingan atau kerugian apapun disana, akan berbeda jika saya adalah seorang PKL yang tempat berjualannya direlokasi yang mana ditempat yang baru itu sepi pembeli, seorang warga yang tempat tinggalnya digusur atau dipindahkan yang mengakibatkan mata pencaharian hilang, lalu saya pun harus membayar sewa setiap bulannya ditempat yang baru, seorang yang diberikan janji-janji manis yang hanya tinggal janji, ataupun seorang yang dimaki-maki depan orang banyak.

Jangan mau dibodohi pakai Al-Maidah:51


Saya lupa kapan tepatnya meilihat video Ahok yang dikataan "menistakan Agama" itu, satu yang pasti saya melihat vidio itu di facebook. Satu kata saja "sakit", emosi sudah pasti, lebaykah ? entahlah, mungkin hanya Allah yang tahu arti "sakit" yang saya rasakan hanya sebuah perkataan atau yang sesunggunya saya rasakan. Beselang dari viralnya video itu, saya sempat membaca beberapa tulisan di kompasiana/indosiana yang dibuat oleh orang "ahli bahasa", mendebatkan kata "pakai" dalam transkip video yang viral itu, yang akhirnya ia simpulkan kurang lebih bahwa "Ahok tidak menghina al maidah, al maidah itu benar, dst ...".

Saya bukan seorang ahli bahasa, entah itu videonya memakai kata "pakai" ataupun tidak yang dikatakan ahli bahasa merubah arti, lalu menjadi fitnah katanya. Hati saya tetap berkata Ahok bersalah, saya mengambil kesimpulan sendiri dengan memilih kata "wajar".
1. Wajar jika ahok mengatakan Al-maidah itu bohong, membodoh-bodohi
2. Wajar jika ahok mengatakan Al-quran itu bohong, membodoh-bodohi
3. Wajar jika ahok mengatakan Ulama itu bohong, membodoh-bodohi
4. Wajar jika ahok mengatakan lawan politiknya yang beragama islam, berkampanye dihadapan mayoritas orang islam, yang dibicarakan itu bohong, membodoh-bodohi
5. Wajar jika ahok mengatakan Islam itu bohong, membodoh-bodohi

Lah iya wajar, karna Ahok bukan seorang muslim, jika Ahok percaya dan yakin Al-maidah, Al-Quran, Ulama, islam itu benar, lah dia mungkin bakal jadi muslim.
Sebuah kewajaran bukan ? jika non muslim tidak menyukai Islam ataupun membenci islam ?
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu,” QS. al-Baqarah (2) : 120)

Jika ada non muslim bilang Al-maidah itu benar, ahok tidak menghina al-maidah/al-quran di video itu, benar hanya dalam arti untuk membela atau benar sesuai kata hati ? tidak, saya tidak menyudutkan, karena saya tahu, hal yang wajar jika yang non muslim untuk membela ahok. Tetapi dengan berkata seperti ini bukan juga menjadi genderang bahwa saya membenci seseorang karena ia non muslim, bukan juga menjadikan saya tidak mau berteman dengan non muslim, toh selama ini umat islam dan non muslim akur dengan sekatnya masing-masing, sama-sama saling memahami, menghargai.

Buka mata, sudah masuk ribuan tahun umat islam dan non muslim berselisih. Semua itu wajar, artinya kita memang benar-benar beriman, jika dalam urusan akidah kesini YA kesitu YA, artinya bingung, sama dengan tidak yakin, sama dengan tidak beriman. Tapi bukan berarti berselisih tidak bisa bersatu, 71 tahun Indonesia merdeka, kita sama-sama saling tahu umat Islam dan non muslim sama-sama bersatu, saling bahu-membahu membangun Indonesia, sekali lagi dengan sekatnya masing-masing.

Jika ada yang bertanya dimana salah ahok ? karena ahok melewati sekat dan menjadikan dia sendiri "tidak wajar", tidak wajar ahok yang saat itu berkapasitas sebagai penjabat publik, non muslim, membicarakan Al-quran, dosa, neraka kepada masyarakat mayoritas islam, untuk apa? jika jeli, kita bisa melihat arah pembicaraannya. Beda, jika Ahok ada dihadapan seimannya, mau istilahnya "maki-maki" islam bodoh, salah, bohong pun ngg masalah, karena itu hal yang "wajar", Ustad/Cagub muslim berhutbah/kampanye kepada mayoritas muslim bahwa Islam melarang memilih pemimpin kafir, "wajar", bukan SARA, itu aturan/rule dalam Islam, urusan Internal.

Apa yang ahok katakan didalam video itu, pasti itu yang dirasakan ahok, ia pasti dongkol lawan politiknya menggunakan ayat Al-maidah : 51, sekali lagi ahok mengatakan bohong dan membodoh-bodohi itu wajar, terlepas dari objeknya apa dan siapa yang dikatakan bohong dan membodoh-bodohi, yang pasti ahok salah karena melewati koridor, melewati kapasitasnya.

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Jika muslim tapi masih ada yang bilang ahok itu tidak salah, mari instrospeksi, MUI pun sudah mengeluarkan Fatwa, kiblat mu siapa ? jika bukan kepada para Ulama ? beliau-beliau yang ada di MUI itu isinya Ulama, bukan orang-orang dengan keilmuan asal-asalan, bukan orang-orang yang mengeluarkan Fatwa tanpa kajian yang jelas. Sudut pandang yang digunakan jelas kita sebagai orang Islam, kembali lagi ini masalah keimanan, jika tidak merasakan akhirnya memang tidak akan mengerti. Tapi bukan pula memberikan kesan bahwa yang merasa "sakit" itu imannya kuat, tidak, masalah keimanan sekali lagi kita serahkan kepada Allah, apa arti dari rasa sakit yang dirasakan.

Kebetulan AHOK, gubernur Jakarta, calon gubernur jakarta, jelang waktu pilkada. Jika banyak asumsi ditunggangi Politik sebuah kewajaraan.
Saya lebih memilih, "Politik bisa memanfaatkan moment itu", ada yang salah? "Ada sebuah bencana dilokasi A", orang Politik datang, untuk membantu dengan atribut partainya, "memanfaatkan moment".
Silahkan bertanya kepada orang yang kemarin ikut berdemo, dia dateng karena apa ? Silahkan bertanya kepada ulama-ulama yang turun, ngapain repot-repot ngurusin politik? tanya Aa Gym, ngapain dari bandung dateng ke Jakarta ngurusin politik Jakarta? ngapain dateng bawa santri tapi cuma disuruh bersih-bersih sampah? Aa Gym cuma ikut-ikutan tanpa tau permasalahan?

Penggeraknya FPI, yang sempat mengusulkan Gubernur Tandingan, saya ingat soal itu. Citra FPI di media dan yang lebih banyak tersebar luas memang buruk, buruk sekali, tidak ada bagus-bagusnya, sampai banyak yang mengusulkan FPI untuk dibubarkan. Apakah mereka pernah terliput media maintream ketika datang membantu di lokasi bencana, dll ? tidak, tidak pernah. Sama seperti citra Islam yang digambarkan sebagai Agama sarang Terorist di Negri sana.
Aksi kemarin besar, pasti didanai partai politik! suka lucu, ada yang ingat kampanye penggalangan dana untuk membantu muslim di Jepang membeli sebuah gedung untuk dijadikan Masjid ? berapa dana terkumpul ? 3,1 Miliar, kampanye di Kitabisa.com
lah Terus ? Mangga cari tau aja sendiri apa maksudnya, hehe ..
Yah, yang mengatakan yang ikut demo itu hanya "ikut-ikutan, ngg mikir", abaikan saja, toh sejak awal sudah disuruh untuk "luruskan niat".

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Saya sedih melihat timeline Facebook sebelum 4 november, sama-sama muslim saling memaki, tidak satu suara, entah kiblatnya kemana. Tapi ketika menyaksikan moment 4 november, ada getaran entah dari mana, ada perasaan sulit menelan dan mata saya mulai berkaca-kaca, jujur saja saya senang, meski sayangnya tidak ikut ambil bagian dari keriuhan di sana, "kenapa ngg gini si muslim itu?", bukan hanya soal berkumpulnya masa, tapi juga soal kesatuan suara, sama seperti apa yang dituliskan Ust. Agus Khoirul Huda LC, yang sempat viral.

hmmm, Pak Ahok memang luar biasa .. :D
Saya menyukai bapak dari beberapa sisi, tapi sama seperti filter, ambil yang baik buang yang tidak baik. Terima kasih juga telah menyatukan umat Islam dalam beberapa hal, isu rasial memang cukup kuat berhembus, tapi jelas bukan itu, kejadian kelam 1998 seperti yang ditakutkan kembali terjadi, jelas tidak terjadi, dan jelas bukan itu tujuannya, kita ingin sama-sama NKRI adil, damai, lebih baik, bersatu, saling memahami, saling mengerti meski dalam sekatnya masing-masing.

Ahok : Mahasiswa Rasis harusnya dikeluarkan dari kampus

Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti. (QS. 9:64)

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. (QS. 9:65)

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema’afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. 9:66)

Agama itu Egois, Agama itu Candu


Sama seperti sebuah institusi pendidikan, udahmah kita bayar, tapi terikat aturan, rambut ngg boleh gondrong, kuku harus pendek bersih, sepatu harus hitam, pakaian seragam rapih, hari senin harus upacara, masuk tepat jam 7, ada ulangan, dll.
"Sekolah itu egois, rambut itu suka-suka dong ikutin mode! kuno pendek mulu, kuku panjang ngg masalah dong ya, emang enak ngupil pake kuku pendek? kan susah meraih upilnya! kenapa sih sepatu harus hitam? kenapa ngg putih? jet black? rose gold? kan keren kekinian."

"Agama Islam itu egois, harus sholat 5x pula sehari, ngapain juga puasa? kayak orang susah aja, duit banyak kok, makanan ada. Ngapain juga harus milih pemimpin muslim ? Idola saya itu itu tuh, meski Agamanya E ngg apa-apa dong ya, kan dia juga bagus."

Sekolah itu egois, setelah lulus dari sana, kita baru akan tahu, manfaat rambut rapih, kuku pendek dan bersih, disiplin, tujuan ulangan.
Sekolah itu Egois untuk membentuk anak-anak didiknya.

Agama itu egois, ada rules yang harus diikuti oleh pengikutnya. Tapi meski begitu, agama itu akan menjadi candu pada level tertentu, pengikutnya yang akan merasa butuh, bukan agamanya, bukan kitabnya, bukan utusannya, bukan pula Tuhannya.

LABEL: AksiDamai , Muslim , What I Think