Partner terbaik akan datang seiring dengan niat terbaik, tujuan terbaik, keikhlasan terbaik, kesabaran terbaik, penjagaan terbaik, penerimaan terbaik, pemahaman terbaik, ilmu dan amal terbaik, konsep visi misi dan eksekusi yang baik, serta usaha dan doa terbaik. In Sya Allah~



"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga)."
(Qs. An Nur: 26)

Ah, kalimat pembuka diatas adalah status teman saya, yang saya lihat di facebook, dan BTW dia akan menikah bulan november besok. Whaha, saya memang sering ngelantur kemana-mana kalau nulis, jadi harap dimaklum. Setelah melihat status itu sedikit terlintas beberapa pertanyaan dibenak saya, "Kenapa ya ada istilah Jodoh yang baik akan bersama yang baik, atau seperti perbaiki diri maka Allah perbaiki jodoh kita, pantaskan diri, dll".

Mengenai pertanyaan itu, saya pun teringat beberapa keluhan yang bertentangan dengan Surat An-Nur ayat 26 diatas, karena kenyataannya banyak orang yang baik mendapatkan pasangan hidup yang tidak baik, dan begitu pula sebaliknya. Saya sedikit menelusuri tentang Surat An-Nur ayat 26, dan ini asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunya suatu ayat).

"Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan bin al-Mu’attal r.a. dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasullullah SAW. dan para shahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah dikalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi perpecahan diantara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat ini yang juga satu paket annur 11-26."

Jika merujuk pada asbabun nuzul, sepemahaman saya Ayat ini bukanlah merupakan janji Allah kepada manusia yg baik akan ditakdirkan dengan pasangan yg baik. Salah satu yang mungkin bisa dijadikan rujukan adalah istrinya Nabi Nuh a.s, istrinya adalah seorang yang kafir, dan apakah Nabi Nuh itu orang yang tidak baik ? mungkin sebaliknya ayat ini merupakan peringatan agar umat islam memilih manusia yg baik untuk dijadikan pasangan hidup.

#Nusronisme

Dan lalu saya mikir lagi soal definisi baik itu apa ? (kebanyakan mikir, berfikir itu baik ... :v), jangan sampai mengikuti faham #Nusronisme, jika memang suatu arti dikembalikan kepada manusianya atau yang berkata, saya merasa tidak akan pernah bertemu, karena akan banyak sekali faktor yang akan dipergunakan manusia untuk mengatakan apakah sesuatu itu baik atau tidak, mungkin ini agak sedikit konyol jika dijadikan contoh, misal "seorang miskin nekat mencuri dari orang kaya untuk memberi makan keluarganya yang sudah beberapa hari tidak makan", lalu apakah itu tindakan baik ? atauakah itu tindakan buruk ?

Nah untuk menyamakan persepsi, tentu harus ada rujukan yang wajib diikuti agar definisi baik dan buruk tadi memiliki arti yang absolut, dan tentu saja yang muslim mah rujukannya Al-Qur'an dan Hadist.
Duh ini meleber ke jalur mana lagi ? kembali ke track ah ...

Nah saya kembali teringat istilah seperti ini, "Orang yang berteman dengan penjual parfum, pasti kecipratan wanginya", lalu jika saya ingin menjadi orang yang baik tentu saya akan mencari teman yang baik, yang tentu saja cepat atau lambat lingkungan saya pun akan berubah menjadi baik.

Saya tidak memiliki pengalaman soal jodoh-jodohan, saya akan rujuk cerita teman saya yang akan menikah bulan november ini saja.

Teman saya dan calon istrinya ini saling dipertemukan dengan sebuah CV, iya CV, CV apa lagi selain CV, CV. Setelah saling cocok dengan masing-masing CV yang diajukan, mereka bertemu yang tentu aja didampingi, dan kalau tidak salah selang 2 bulan kemudian keduanya melakukan lamaran, dan bulan november besok melakukan pernikahan.

Kenapa harus buru-buru ya? saya tidak pernah menanyakan soal itu, tapi kenapa tidak? meskipun banyak pertimbangan yang sifatnya pribadi, saya berasumsi seperti ini, ketika kita berada dilingkungan baik, insya Allah lingkaran orang-orang disekitar kita juga baik, kembali Jodoh yang baik akan bersama yang baik. Pernah dengar cerita perjodohan serupa? atau bahkan ngalamin? well, secara agama kedua orang ini sudah saling paham bagaimana mencari jodoh yang baik, one step diatas orang yang mengaku islam tapi tetap mencari jodoh dengan cara berpacaran, atau menjajakan diri dengan hal yang tidak baik, dan tidak perlu berdebat, ingat saya sudah menyamakan persepsi tentang rujukan baik dan buruk.

ahaha, maaf jika ada yang membaca ini dan tersinggung, saya ingin memberikan insight kenapa saya bisa bicara hal seperti ini dengan mudah.
saya pengagum orang "gambarannya" yang merokok lalu mencoba berhenti, meski nafsu tentu saja lebih kompleks dari kecanduan rokok, karena nafsu sudah tertanan sejak orok bukan dibuat seperti kecanduan rokok. Tegasnya, orang yang bisa menahan diri, yang berarti ada rasa/keinginan bahkan pernah terseret tapi bisa bangkit mengendalikan hal itu.

Saya termasuk orang yang beruntung atau mungkin juga sial, beruntungnya nafsu saya tidak pernah mengarah kesana, ini sedang berbicara soal pacaran ya, kalau orang-orang disekitar saya bilangnya dingin, meski sebetulnya saya hanya tidak mengerti "kenapa manusia itu harus berpacaran?", sepertinya saya memang dilahirkan "polos" mengenai hal ini ahahaha, dan enaknya sikap saya diaminkan oleh agama yang saya anut.

Saya tidak bisa menutup mata bahwa, banyak orang disekeliling saya yang saya yakin mereka tahu ilmunya tapi tetap melakukan hal yang demikian, saya tidak bisa berbicara betapa sulitnya mengendalikan nafsu untuk tidak pacaran, karena saya tidak mengalami hal itu, yang saya tahu saya paham itu sulit tapi bukan berarti tidak bisa dikendalikan bukan ?, jika ingin mengorek sedikit tentang teman saya yang akan menikah ini, dia juga pernah terseret tapi bisa bangkit mengendalikan hal itu, dan akhirnya tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri selama ajal belum menjemput, eaa ...
"wah salah ini, saya dan pasangan saya pacaran dulu sebelum menikah, tapi kami baik koq, shalatnya rajin, ngajinya rajin, sama-sama saling belajar memperbaiki diri deh"

"kalo ngg pacaran/saling mengenal dulu, terus ternyata paska nikah, dianya bajingan gimana ? mending pacaran/saling mengenal dulu dong sebelum memantapkan diri untuk menikah ?"

ah, ngg tau deh, siapa saya? saya tidak bisa menjudge/pemberi kebijakan baik/buruk atau lain-lainnya, seperti yang saya bilang diatas, mari menyamakan rujukan, dan rujukannya Al-Qur'an dan Hadist, bukan merujuk pada persepsi dan asumsi pribadi. Mengenai soal saling mengenal, tentu ada caranya, gimana caranya ? ngaji, karena saya juga masih belum begitu paham, makanya yuk kita ngaji ... :D

"oke, jadi cara nyari jodoh yang baik itu ngajuin CV? ngajuin kesiapa? misal ada cewe yang saya suka, saya ngasih CV gitu?"

he, itu salah satu cara, apapun caranya selama tidak menyalahi syariat silahkan lanjutkan ? caranya ? ngaji, karena saya juga masih belum begitu paham, makanya yuk kita ngaji ngahaha ... :D

"hi, jodoh-jodohan dong masuknya, Hello!! ini masih jaman Siti Nurbaya ya ? bangun woy sekarang tahun 2016 gitu loh, iya-iya kalian semua suci aku penuh dosa"



Sekedar tambahan informasi teman saya ini aktif mengikuti liqo/halaqah, Secara bahasa halaqah artinya lingkaran dan liqo` artinya pertemuan. Secara istilah halaqah berarti pengajian dimana orang-orang yang ikut dalam pengajian itu duduk melingkar. Dalam bahasa lain bisa juga disebut majelis taklim, atau forum yang bersifat ilmiyah.

Sudah mendapat gambaran bagaimana lingkungannya ? orang-orang apa yang akan berada disamping kita jika berada pada lingkungan serupa ? seperti apa juga kenalan orang-orang disamping kita ini ? tentu saja yang paling penting jodoh seperti apa yang akan dipertemukan dengan kita ? hello, niat ngaji atau niat cari jodoh ? awas hati-hati dengan niatnya .. whahaha ..

Lalu kapan ketemu jodoh baiknya?

whahaha lagi dan lagi, mari menahan dan pantaskan diri

BTW saya masih sendirian koq sekarang .. :v
#inibukanpromosi


LABEL: Cinta , Intermezo , Muslim , What I Think