Suara bising orang-orang didalam mobil, juga kondisi jalan yang bergelombang membangunkan saya malam itu.





Saya menengok dari balik kaca, seperti yang dikatakan ayah, lokasi ini sedikit asing bagi saya, kami melewati sebuah jembatan yang sedang dalam tahap pembangunan, "kondisinya masih sama saja" ujar ayah. hmm, semua orang dirumah kecuali saya, liburan sekolah kemarin pulang kekampung, jadi hanya saya yang baru mengetahui kondisi seperti ini.

Ditengah diskusi untuk memutuskan kerumah nenek (dari Ibu) terlebih dahulu atau ke rumah bibi (adik ayah), saat itu sekitar pukul 2 malam, sampai akhirnya diputuskan untuk kerumah nenek dahulu, setelah melewati jalan utama, jalan disepanjang perjalanan agak sedikit menyeramkan karena kondisi gelap gulita, dan hanya mobil kami yang melewati jalan ini, seperti sebuah tempat yang ditinggal penduduknya, pikir kami rumah-rumah dipinggir jalan ini juga terkena penggusuran, sampai akhirnya kami tiba dirumah nenek, pukul 3 malam saat itu, dengan kondisi yang juga sama-sama gelap. Karena ada pemadaman, sambut sepupu paling cerewet yang membukakan pintu untuk kami.

Tidak hanya sepanjang perjalanan yang banyak berubah, rumah tua nenek juga sudah banyak berubah sejak beberapa tahun belakangan ini, karena hampir semua anak-anak nenek kembali menetap di kota ini.

Desa ayah berada sekitar 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat dari desa ibu, hanya saja tidak seperti tahun sebelumnya, kami tidak bisa lagi menginjakan kaki di desa itu, tidak lagi melewati 10 menit perjalanan ditengah hamparan sawah, desa itu sudah tidak bisa kami lihat, desa itu kini sudah ditenggelamkan.

Bendungan Jatigede


Bukan sebuah proyek prematur, proyek tua yang sudah dicanangkan sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno, rencana yang dianggap omong kosong, rencana yang tidak akan pernah selesai, itu yang saya dengar. Mungkin sebuah kewajaran jika menganggap hal seperti itu, karna Ayah pun sudah mendengar desas-desus proyek ini sejak ia masih kecil.

Sekitar tahun 2008, pengambilalihan wilayah oleh pemerintah mulai memasuki desa Ayah, tidak hanya tanah dan bangunan yang dibeli pemerintah, sampai pohon dan pagar pun dibayar, oleh karena itu tahun-tahun itu banyak orang yang mendirikan "rumah hantu", rumah yang sengaja dubuat hanya untuk mendapatkan penggantian, meski akhirnya ada tindakan tegas.



Saudara kandung ayah yang tinggal di Desa itu hanya bibi, jadi setiap lebaran kami mengunjungi rumahnya dan bermalam disana. Untuk saat ini bibi tinggal di Desa tempat Alm. nenek dan kakek saya dimakamkan, lokasinya tidak jauh dari Desa yang ditenggelamkan itu, hanya membutuhkan waktu 30 menit perjalanan. Desa ini tidak terkena proyek bendungan karna lokasinya yang cukup tinggi.

Rumah bibi cukup dekat bila ingin melihat air yang dibendung, lokasinya sekitar 500 meter dibelakang rumah bibi, jika ingin view finder yang lebih luas ada spot yang juga bagus, hanya saja lokasinya lebih jauh dari sebelumnya, sekitar 1 KM melewati hutan bambu.





Hari sudah sore, matahari sudah mulai tenggelam, ditemani sinar orange-nya yang khas, saat itu Kami sedang berdiri diatas bukit, Ayah dan Bibi sedang saling tunjuk menyebutkan beberapa lokasi yang sudah hilang tenggelam, ditengah obrolan itu bibi memanggil salah seorang yang ternyata kawan lama Ayah.

Saya duduk menyila diatas saung yang dibangun oleh warga, memperhatikan hamparan air, dan beberapa perahu yang beranjak kembali, bukit ini sudah sepi ditinggal pengunjung. Hanya Saya, Ayah dan Kawan lama Ayah. Saya bisa merasakan kesedihan itu, saat mendengar obrolan Kawan lama ayah yang yang sudah lama tidak bertemu.

Ayah tidak pernah bicara langsung soal kesedihannya ketika Desanya sudah menghilang, Ia hanya sering bercerita tentang saat muda dulu yang pernah menjabat sebagai ketua Karang Taruna, dan mengadakan banyak pertandingan olah raga bagi penduduk desa.

Berbeda dengan bibi, Ia menceritakannya secara langsung. Ketika mengambil kayu bakar dibelakang rumah, dan tak sengaja melihat hamparan air, Ia seringkali harus menyeka air mata yang secara tiba-tiba keluar dari kedua matanya.

LABEL: What I Share