26 Juni 2015, pemerintah Amerika Serikat melegalkan secara hukum pernikahan sejenis. Dimulai saat itu timeline facebook saya dipenuhi oleh berita-berita ini, aura-aura negatif terus menyudutkan. Saat itu bukan hanya pemberitaan media, media-media sosial juga mengeluarkan beberapa fitur untuk menyambut hal ini, misalnya facebook yang membuat filter Photo Profile agar menjadi pelangi, yang merupakan simbol dari LGBT ini. Ada salah satu hal yang menarik soal warna-warni photo profile ini, yaitu penggantian salah satu Photo Profile teman saya dengan filter warna-warni. Apa yang terjadi ? tentu saja menarik perhatian orang-orang untuk berkomentar.

30 Juni 2015 penggantian itu dilakukan, dari sekian banyak komentar negatif dan olok-olok ada 1 orang yang melakukan pembelaan dengan konteks lain. Kebetulan saya kadang memperhatikan aktifitas 1 orang pembela ini, dan saya tahu alasan pembelaan ini bukan hanya dari komentar-komentar dia dipostingan saat itu, tapi dibalik aktivitas keseharian yang dia share di facebook.

Dari 2 paraghrap diatas, mungkin saya terbaca sebagai seorang yang PRO LGBT. Tidak, saya tidak sedikitpun PRO terhadap mereka, tapi saya lebih tidak suka kepada orang-orang yang mengolok-olok atau mendiskriminasi, entah itu kepada LGBT keq, atau siapapun itu.

Saya agak kesal membaca komentar olok-olokan, kenapa ? apakah kamu yang mengolok-olok itu tahu seperti apa keadaan mereka sebenarnya ? sejauh ini kita hanya melihat kulit, kita tidak pernah tahu apa yang ada didalam mereka, kita tidak pernah tahu gejolak batin apa yang mereka rasakan bukan ?

"Don't judge people by cover", Sebenarnya keseluruhan tulisan ini untuk diri saya sendiri, diri saya beberapa bulan atau tahun yang lalu, bahkan untuk pengingat saya dimasa yang akan datang, karna saya sering "Judge people by cover", saya tidak tahu apakah ini sebuah bawaan, saya tidak ingin melakukan pembelaan dengan membawa sifat bawaan yang belum terbukti ini, tapi jujur saya melakukan itu terhadap semua orang, seperti program yang otomatis, mimindai dan menilai, walau saya bukan siapa-siapa, bahkan kadang hanya sekilas mengenal orang, tapi saya sudah menilai. Sampai suatu waktu, saya beberapa kali salah menilai orang, dan mulai berfikir untuk berhati-hati dengan diri saya sendiri. Saya takut, saya takut pikiran saya malah merusak pandangan saya. Dari ketakutan itu saya mulai mencari sesuatu yang lain.

Sudut pandang, itulah yang coba saya lalukan untuk mereduksi penilaian saya jika ada penilaian negatif. Meskipun itu hanya berupa asumsi-asumsi saya pribadi, tapi bagi saya lebih baik dari pada merusak pandangan saya terhadap seseorang, lebih baik dari pada saya harus mengolok-olok.

LGBT suatu cobaan

Kita semua sudah mengetahui, Nafsu adalah fitrah manusia yang Allah berikan. Bukan hanya sifat baik, sifat buruk pun adalah pemberian Allah, dendam, amarah, benci, bahkan rasa suka terhadap sejenis adalah pemberian. Kehidupan dunia dipenuhi perjuangan, hidup adalah perjuangan melewati cobaan, dan salah satu cobaan itu adalah nafsu tadi.

"Katakanlah kepada para lelaki yang beriman, "Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat", (QS. An-nur:30)

Semoga saya tidak salah, ini penafsiran saya. Pada perintah lelaki ini, tidak diperjelas apakah dia normal atau melenceng, siapapun yg memiliki ciri fisik lelaki "Hendaknya mereka menahan sebagian pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka", dalam poin ini terdapat unsur seksualitas, wallahua'lam.

Cobaan lelaki normal menahan hasratnya kepada wanita, cobaan LGBT menahan hasratnya terhadap sesamanya, ini bukan hal yg mudah, memang tidak ada perbandingan yg jelas mudah atau tidak, bagi saya ini bukan hal yang mudah, cobaan mereka jauh lebih sulit dari cobaan orang normal.
Tidak semua orang LGBT mengimani islam! ya, ajaran islam universial, dipastikan ada sesuatu kenapa diperintahkan untuk menahan pandangan dan kemaluan. Mungkin sebagian kecil sesuatu itu, ketika manusia dianjurkan menikah untuk mendapati keturunan dan melangsungkan hidupnya, jika LGBT tidak bisa menahan hasratnya? kita pasti sudah tau, meski impact nya tidak besar.

Tidak semudah apa yg dibicarakan, meski para pakar psikologi di Amerika mengatakan "LGBT bukan penyakit, tidak bisa disembuhkan.", walaupun kita berhasil mengajak mereka untuk lurus, ketika seorang gay menikah dengan wanita, pasti dia tetap memiliki perasaan "saya hidup dengan orang yg salah", itu cobaan yg menurut saya, amat sangat berat bagi meraka.

Ini kutipan komentar teman saya, "Coba tempatin diri kalian sebagai orang yang ngalamin hal tersebut, bukankah hidup dengan orang yang salah merupakan suatu hal yang mengerikan?", dan kita semua tahu bahwa "Feelings are just to be felt, and one cannot simply describe what he/she has never felt". Saya sendiri tidak akan pernah bisa membayangkan, kalo hal itu ada di dalam diri saya, mau menerka bagaimana pun itu sulit.

Dan sepengetahauan saya, tidak ada perintah untuk memusnahkan, membumihanguskan, membunuh, ataupun mencaci. Yang ada adalah Nabi Luth a.s yang berdakwas selama puluhan tahun, sampai Allah sendiri yang turun tangan memberikan azab. Jadi yang ada adalah contoh perintah dakwah, bukan mencaci ataupun mencela.

Kita manusia beradab, punya pikiran yang baik, apalagi kita sebagai seorang Muslim, coba jangan lagi diskriminatif, kepada mereka LGBT atau siapapun. Saya tidak menyetujui tindakan mereka untuk menjadi seorang LGBT, tapi mereka ada, mereka perlu "diperhatikan", mereka bukan untuk dijauhi, mereka perlu "dukungan", bukan olokan, cacian, makian yang malah menyudutkan mereka, membuat mereka lebih terasing, ditengah keterasingannya.

LABEL: What I Think