Penyedia layanan TV berbayar sudah seperti berjualan kacang goreng saat ini, banyak, hingga ISP-ISP yang juga membuka bahkan membundle layanannya sebagai bahan promosi, seolah memberi isyarat, “Ayo, mending nonton siaran TV luar negeri, dari pada goblok liatin siaran TV lokal yang ngg mendidik”. Hmm ... kasar.

Si “kaya” lah yang menjadi pasar layanan TV berbayar ini. Bukan berarti TV luar itu “bersih” semua, yang kotor mungkin lebih banyak, tapi masa iya si orang mengeluarkan biaya, dan untuk melihat tayangan-tayangan “kotor” juga. Bukan tentang uang saja, mereka juga “kaya”, dari pada anak atau keluarganya disuguhi tontonan yang bukan tuntunan, moral rusak, mending kasih ilmu pengetahuan yang banyak disajikan dilayanan TV berbayar.

Bagaimana dengan si “miskin” ? Harus pasrah terpapar dengan sajian siaran TV yang masih banyak tidak memberikan esensi apapun. Terlebih, siaran TV lokal yang berkualitas bisa dihitung dengan jari.

Menonton itu sebuah pilihan, iya, tapi alangkah indahnya jika tontonan penghilang penat itu juga memberikan ilmu pengetahuan, “pusing ilmu-ilmu mulu! Nonton itu tentang menghibur diri! Nonton itu selera, urus aja dan tonton aja yang elo suka, repot amat ngurusin orang lain!”, repot amat ngomentarin opini saya? Merasa dirugikan ngg? Ngg akan? Enjoy aja lah ya.

Ya, mau bagaimanapun saya memang ngg tahu apa yang terjadi di dunia perTelevisian ini, terus mundur, entah salah siapa. “Rating, iklan dan duit lah yang berperan. Who care tentang pembodohan? Selama rating tinggi, gua dapet duit dan gua senang. Bodoh itu urusan penontonnya, bukan gue!”.

Hmmm... entahlah ...

LABEL: What I Think